Sang Revolusioner Rastafari

Sang Revolusioner Rastafari - Beberapa kali meteor dan bintang menyemburkan cipratan cahaya yang indah. Cahaya itu muncul dari gesekan meteor dengan atmosfer bumi. Malam itu terasa berbeda dengan malam-malam biasanya. Itulah, mungkin langit sedang berbicara bahwa seseorang akan hadir menjadi legenda. Tak pelak, pagi dini hari, Rabu 6 Februari 1945, telah lahir bayi dari seorang rahim seorang petani wanita, Cedella Broker. Robert Nesta Marley lahir kedunia di desa St.Ann kampung Nine Miles di balik lembah pegunungan negeri Jamaika.

Robert Nesta Marley atau Bob Marley ini lahir di tengah kondisi ekonomi Jamaika yang sedang kacau. Kemiskinan mengiringi suasana Bob Marley sedari kecil. Hari-harinyapun terlihat semakin rancu. Apalagi tidak adanya sosok seorang ayah. Sang ayah, Norval Sinclair, seorang kapten tentara Inggris meninggalkannya sejak ia masih kecil. Kehidupan keduanya, Bob Marley dengan sang ibu, berjalan dengan terseok-seok dengan keadaan ekonomi yang tak karuan. Tapi hal ini, tidak membuat ketegaran Marley muda menjadi runtuh. Ia selalu mendengarkan nasihat ibunya. Sosok ibu sangat ia kagumi karena ketegaran sang ibu dalam mengasuh Bob Marley hingga ia dewasa.10 Februari 1966, Bob Marley kehilangan ”keperjakaannya” alias menikah dengan Rita Anderson. Marley yang masih tergolong muda, 21 tahun, menikah dengan Anderson yang juga tak kalah muda, 19 tahun. Dari perkawinannya ini, terlahir marley junior, David Marley yang lebih sering kita dengar dengan nama Ziggy Marley.

Kerasnya jalanan Trench Town menjadi awal perjalanan karier sang legenda. Marley muda sering keluar masuk bui akibat dari tindakannya yang selalu mengkonsumsi ganja. Karena pada saat itu belum ada legalisasi tentang ganja di ranah jamaika. Jalanan keras kota Gettho yang dipenuhi dengan berandalan seakan membuat marley semakin berkharisma. Meskipun mempunyai perawakan yang cukup kecil, sang legenda ini tetap dihargai oleh berandal-berandal. Tidak ada yang berani mengganggu Bob. Di jalanan, Marley bersama dengan Bunny Livingston sering mangkal sambil bermain musik, memukul gendang, dan membuat lirik spontan seperti cara mereka dalam menghisap ganja. Awalnya musik yang mereka ciptakan lebih tergolong dengan musik bergenre RnB yang digandrungi pada saat itu. Lama kelamaan RnB mulai memudar dan beralih ke aliran ska kemudian muncullah genre musik santai, Reggae. Marley semakin mencintai musik jenis ini, bersama Livingston tentunya. Dari musik ini, terciptalah musik reggae. Dan reggae ini membawa marley berteman dengan seorang pemain gitar Winston Macintosh atau dengan nama kerennya Peter Tosh. Kedua orang ini sangatlah seragam. Sama-sama penggila ganja. Bersama-sama mereka, akhirnya terciptalah sebuah band dengan nama The Wailers. Nama Bob Marley semakin membahana didunia ditambah dengan hadirnya band ini.
Dalam konser yang bertema ”One Love Peace Concert” yang diadakan di Jamaika 22 April 1978, sosok Bob Marley sangat dielu-elukan. Kehadirannya semakin membuat semua orang bangga ketika Marley berhasil menyatukan kedua tangan pejabat yang saling berseteru saat itu, Perdana Menteri Michael Manley dan pemimpin partai oposisi JLP, Edward Seaga. Konser berhasil menyatukan kedua petinggi ini tak lepas dari tindakan hati mulia seorang legenda, Bob Marley. Hal ini sebenarnya ditujukan agar keamanan kota kingston lebih stabil dan tenang. Dengan kejadian ini, nama bob marley semakin santer ditelinga seluruh orang sejagad.
Bob Marley dan ganja adalah sahabat. Jika salah satu tidak hadir diantara keduanya, maka salah satu akan terasa kosong dan hambar. Pada saat setelah sebuah konser di New York selesai dilakoni bob marley and The Wailers, tepatnya hari minggu 21 September 1980, Bob Marley berencana untuk jogging. Saat itu hari sudah siang yang panas, Bob Marley lari-lari kecil di Central Park, New York. Di tengah-tengah kegiatannya ini, tiba-tiba Bob Marley tejatuh.setelah kejadian ini, badannya mendadak lemas tak berdaya. Akhirnya ia merujuk kepada dokternya, Alain Cole dan Dr. Frazier. Setelah di sinar x, barulah di ketahui bahwa Bob Marley menderita Stroke di otak yang juga telah tumbuh tumor akut setelah terjatuh tadi. Tapi dengan keadaan yang lemah ini, Bob Marley tetap ingin melanjutkan konser tour Amerikanya sampai selesai. Pada tanggal 22 September, seluruh anggota The Wailers Dan The I Threes tengah bersiap-siap menuju Pittsburgh untuk konser berikutnya. Bob Marley belum muncul karena kondisinya yang masih lemah. Tetapi Bob bilang jika dia akan menyusul mereka dalam penerbangan berikutnya.
Setelah tiba di Pittsburgh, akhirnya Marley menepati janjinya. Bob Marley malam itu menyanyikan sebuah lagu yang mungkin menjadi legenda sampai sekarang, Redemption Song. Bob Marley bernyanyi tanpa iringan apapun karena semua personil dan penonton terhentak dengan tampilnya marley yang masih kelihatan pucat. Malam itu seakan menjadi malam terakhir sang legend bernyanyi. Setelah selesai bernyanyi keadaan menjadi hening. Penonton dan The Wailers hanya dapat terdiam sambil menatap hangat marley. Paginya, keadaan Bob Marley semakin lemah dan pucat. Akhirnya Bob Marley menghilang dari publik untuk dibawa ke Jerman Barat, ke pusat terapi kanker milik Dr. Josef Issels. Setelah beberapa bulan dirawat, para dokter menyimpulkan bahwa bob marley tidak mampu di sembuhkan lagi. Menghilangnya Bob Marley ini menyebabkan munculnya kabar jika Bob Marley telah mati. Hari-hari terakhirnya pun masih dihabiskan dengan menghisap ganja sambil membaca injil yang digenggamnya. Dasar Bob Marley, meskipun ia tahu akan mati, tapi tetap saja menghisap ganja. Karena untuk memudahkan operasi, rambut gimbalnya pun terpaksa dibabat habis.
Dan pada tanggal 11 Mei 1981, Bob Marley meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Semua orang seketika itu matanya jatuh berlinangkan tetesan air mata, tak percaya bahwa sang pujaan telah meninggal. Bob Marley menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Cedars of Lebanon di Miami. Rakyat Jamaika menginginkan jenazah sang legenda dimakamkan di tanah kelahirannya, St. Ann, Jamaika. Seminggu setelah kematiannya, jasad sang revolusioner itu tiba di Jamaika. Diringi jutaan rakyat Jamaika, jasad dibawa ke gereja untuk didoakan yang dipimpin langsung oleh Edward Seaga. Setelah doa selesai, jasad sang legenda dibawa ke St Ann Nine Miles dan dikebumikan di sebuah bukit yang terletak tak jauh dari tempat kelahirannya. Pemerintah jamaika memberinya penghargaan tertinggi di negernya dengan gelar tertinggi sebagai ”The Jamaican Order Of Merit”.
Tak terasa, 2009 ini Bob Marley sudah 28 tahun meninggalkan dunia ini, tetapi kharisma dan warisannya tetap bersinar serta sungguh tak ternilai. Selamat jalan bapak inspirasiku. Rest in Peace.

0 komentar:

Poskan Komentar